Jumat, 15 April 2011

Geng: Tren-D, Pengembaraan Bermula

Yooooww semuaa!!! Salam gaul mameen, mumuun, mahmuud, siapapun kalian!! Yeaah! Yang disaanaaaa!!! Jogeed ciiin~~~!! Margonda digoyaaangghh~~

……..

Ehem. Oke, semenjak hari Rabu, tepatnya tanggal 16 Maret, sekolah gue libur selama 8 hari. Ya, anda tidak salah baca… ini benar-benar liburan yang sudah disertai label "Halal"!! HALAL!!! Mhuahahahaha, sudah lama diriku menunggu saat-saat ini!! Aku berhasil!! Dia hidup, dia hiduuuupp!!! Mhuahahahaha!!! (Lah lu kenapa ji?)


 

Satu-satunya masalah dalam liburan adalah cara menghabiskan waktu luang yang ada. Seperti kata Sun Tzu: "Pendapatan seorang pelajar akan berbanding menurun dengan lamanya periode liburan". Siapakah Sun Tzu? Dia adalah produsen sabun kecantikan (Eh, itu Shin Tzui deng.. Lalu apa hubungannya? Gak ada. Bodo amat.) Nah, dengan
budget yang rendah, seorang pelajar harus bisa bertahan hidup selama liburan, mereka harus bisa beradaptasi dengan lingkungan, ini hukum rimba, Bung!! Memakan atau dimakan!! UOOSH!!


 

Untuk itu, gue sudah mempertimbangkan siklus hidup penting yang gue lakukan selama 8 hari:

  • Bangun tidur antara jam 09.00-12.00. Jika tidak bangun di saat yang ditentukan, maka kemungkinannya ada dua. Gue bangun pagi, atau gue bangun di hari berikutnya. Ya kawan, seekor kebo pun ingin menjadi normal…
  • Jika gue udah bangun, gue akan mulai mencari hal yang bisa gue makan. Hidung gue bisa mendengus akan adanya keberadaan mangsa dari radius 100 meter (Semacam lagi di Discovery Channel gitu ya…). Apa yang ada di kulkas gue lumat. Sosis kakak gue pun ga lepas dari incaran. Dan biasanya sehabis itu gue bakal kejar-kejaran di rumah untuk menyelamatkan diri dari cengkraman ganas kakak gue yang haus akan darah perjaka (Ini maksudnya apa toh ?). Yeah, sleep like a baby, eat like a babi…
  • Abis makan, gue langsung ngeluyur keluar rumah mencari hiburan. Kalo ada duit, paling-paling main warnet, kalo ga ada duit, paling-paling gue ngerampok warteg dan mengancam pemiliknya dengan sandal jepit, terus main warnet. Rencana akan berjalan mulus kecuali pemilik warteg tersebut balas mengancam dengan penggorengan. Kalah damage deh gue…
  • Pas sore gue bakal pulang tanpa dosa, nongkong di ruang keluarga terus nonton Upil dan Ipil. Kalo udah abis, gue ganti channel dan nonton sinetron "Putri yang Ditukar Beras 5 Liter". Murah banget tuh si Putri? Masih kembalian Rp 3.500,- lagi!! Oke canda, ga mungkin gue nonton sinetron. (Lebih ga mungkin lagi kalo ada sinetron berjudul seperti di atas)
  • Malem hari, gue mencari tontonan menarik di tipi karena modem laptop sama sekali ga ada pulsa. Sialnya, kalo udah malem di tipi kebanyakan acaranya aneh-aneh. Emang sih beberapa ada yang memutar box office movies, tapi belum bisa menetralisir tontonan seperti tim pencari orang hilang kaya Termewek-mewek dan setiap kali dapet info mengejutkan pasti ada suara "Jegeerr!!" dan ada efek kamera gaje. Oke, lebih baik gue tidur.

Oke, gue akui itu benar-benar jadwal yang membosankan. Gue ingin pergi ke suatu tempat untuk menghabiskan waktu. Ke mana pun gue ga keberatan, selama dikasi ongkos. :-p


 

Tiba-tiba pada tanggal 20 Maret, hari Minggu gue dapat SMS mengejutkan dari Juhan, temen gue. Apa isinya? Enggak, Juhan gak nembak gue. Walaupun sebenernya gue tau Juhan nyimpen perasaan ke gue, tapi tampaknya dia belum berani untuk menyatakannya. Mungkin dia pejantan yang kerempeng seperti rempeyek kekar dan ringan atau bisa disebut kekeringan, tapi dia bukan tipe gue. (Oke, topik ini mulai aneh). Isi SMSnya adalah :


 

"TRIP KE 2 TREN-D!! Ragunan, Tanggal 22 Maret 2011 kumpul di Detta Marina!! Usahakan bawa bekal untuk makan siang di sana."

Sender: Juhan Eko


 

Yeeesss!!! Akhirnya, AKHIRNYA!!! Gue berkesempatan untuk menatap dunia luar… dunia luar!! Mhuahhaahha!! Aku rindu pada mu cahaya matahari!! Aku bebas, aku bebaaass!!! (Mulai melankolis) Gue pun membalas SMS Juhan.


 

"Bawa bekel Ju? Tenang aja, gue bawa kompor portable sama wajan. Kita masak salah satu penghuni di sana!! Mhuahahah. Ada yang doyan dengan "Trenggiling cah Semak2"?"

Message Sent. Ga sampe 5 menit, dia udah bales.

"Oke!! Nanti kita masak steak Akbar!! Hahahahaa!!"

Sender: Juhan Eko

Gue lalu bales.

"Yeah!! Nanti gue juga masak Sop Konro Juhan!! Uooh, pesta kanibal!!"

Message Sent. Ga sampai 1 menit, dia balas dengan singkat.

"Gue ga jadi ikut…"

Sender: Juhan Eko

Gue cengengesan.

"Ah ayolaahh… Kalau enggak, lu dijadiin tulang bakar aja, gimana? Penawaran yang sulit ditolak bukan?"


 

Intinya, malam itu gue SMS ngalor ngidul sama Juhan untuk mengobati rasa kangen dan hasrat yang membara menghibur diri. Tentunya si Juhan yang selalu gue pojokkan… mhuahhahah.


 

Hari H, gue bersiap-siap untuk berangkat. Jam 06.00 gue mandi (Iya, anda ga salah baca. Gue mandi. Pake aer, ga pake pasir), terus bawa barang-barang yang mungkin gue butuhkan di sana. Handphone, Jaket, Topi, Bekal dan Keripik Singkong buat ngejahilin Monyet di Ragunan untuk mengingatkan gue akan masa lalu sudah gue masukkan tas. Karena gue tahu Jakarta itu keras, gue membawa satu barang lagi, yaitu… Al-Quran. Hei, siapa tahu kan ada orang mau ngerampok gue, lalu gue bacakan Ayat Kursi terus perampok itu lari kocar kacir (Ini perampok atau demit?).


 

Jam 07.45 gue berangkat dari rumah menuju ke Detta Marina. Sampa Detta Marina gue kira gue yang paling telat, ga tahunya gue orang ke tiga pertama yang sampai. Pertama Akbar, Irfan terus gue. Ga berapa lama Arief dan Devina datang. Saat sampai, Arief pun menanyakan sesuatu yang ga masuk akal "Ber, lu bawa Laptop ga?". Oke, ga mungkin gue bawa laptop, kecuali gue mau tuker-tukeran e-mail FB sama penghuni Ragunan.


 

Jujur, saat itu perasaan gue ga enak. Gue udah menunggu bermenit-menit tapi yang lain belum datang. Bahkan Juhan dan Listia yang mempelopori acara juga belum datang. Gue memperhatikan sekeliling, mungkin ada kamera tersembunyi atau ada kru TV yang siap-siap mengejutkan gue dari belakang dan teriak "Kena deehh!! Lu dikibuliin!!".


 

Gue juga menatap curiga tukang buah yang sedari tadi duduk di seberang jalan sana. Gue berpikir keras "Jangan-jangan Tukang Buah itu Uya Kuya? Dan dia ingin menghipnotis gue, menepuk punggung gue dari belakang, lalu gue tenggelam dalam labirin bernama pikiran? Jangan-jangan gue nanti tanpa sengaja membongkar rahasia hubungan gelap gue dengan Angelina Jolie, dan… dan…. Aaaarrrghhh!!!" (Heboh dalam khayalan sendiri)


 

Saat gue mengutarakan kecurigaan gue ke Akbar, dia cuma jawab singkat "Lu goblok. Tau ga loe?" sambil cengengesan. Gue ga puas dengan jawaban Akbar. Oke, mungkin gue goblok, tapi bukan soal itu. Sebelum gue sempat menyambit tukang buah itu dengan sendal untuk memastikan apakah dia Uya Kuya, ternyata Listia dan yang lain udah datang. Cih, beruntung sekali tukang buah itu.


 

Jam 09.00 sudah terkumpul 13 orang yang siap berangkat, anak-anak lain ga ada kabar. Si Tarjo ga bales SMS gue, Alip lost contact, Ghufron bales SMS gue, tapi isinya cuma "Nananini nananananini!!!". Idiot.


 

Tapi sebelum berangkat, ternyata anak-anak lain kurang setuju ke Ragunan. Ada yang mau ke Kota Tua, ke Taman Bunga Mekarsari, ke Genggong (ini pilihannya Akbar), ke The Patch (ini pilihannya gue). Setidaknya ga ada yang mengusulkan kita nongkrong di fly over sampai malam menikmati kendaraan lalu lalang sambil berpelukan. Oh man, sorry. Di kelas gue ga ada anak segawuul itu.


 

Kemelut ini benar-benar membingungkan. Akhirnya setelah setengah jam, tekad bulat kita berubah menjadi pergi ke Kota Tua. Sebenernya gue juga ga mempermasalahkan, toh gue juga belum pernah ke Kota Tua.


 

Yak, akhirnya 13 orang yaitu Fuad (sebagai guide dan navigator), Juhan, Listia, Anis, Akbar (sebagai maskot), Rina, Arif, Irfan, Devina, Eva, Adhika, Cindy lalu Gue siap berangkat ke Kota Tua. Jadi, jangan heran kalau beberapa saat setelah ini Kota Tua akan muncul di Headline News dengan judul "Munculnya Crop Circle di Kota Tua" (Widih, ngeri). Yeah, We coming for peace!!!


 

Mula-mula kita naik angkot 06 jurusan Kampung Melayu dan kita akan turun di RS Harapan Bunda untuk naik Busway (bukan Bus Oren). Awalnya Fuad berniat untuk nyarter angkot tersebut untuk langsung ke Kota Tua dengan 70 ribu. Eh supirnya ngomong "Lho? Kota Tua dimana ya dek?". Setelah dijelaskan dimana Kota Tua tersebut, eh tuh Supir Angkot minta 150 ribu buat kesana. Lah, ga tahu diri.


 

Turun dari angkot, kita naik jembatan penyeberangan (Bukan, ini bukan jenis kendaraan. Ini adalah fasilitas untuk menyeberang, tepatnya… ah lu taulah). Terus kita masuk halte Busway, nongkrong di sana nunggu Busway. Gue ngeliat beberapa remaja yang tampaknya memiliki rencana yang sama seperti kita (Engga, mereka gak mau anarkis seperti kita). Tapi jurusan Kampung Melayu penuh melulu. Akhirnya kita balik lagi naik Busway ke Kampung Rambutan dan dari sana naik yang Kampung Melayu (Gue ga ngerti deh bener atau ga, gue itu buta arah.). Begitu sampai di halte yang tadi kita tongkrongin, gue ketemu lagi dengan remaja yang tadi. Gue nyeletuk "Eh, kayak kenal..". Anak-anak pada ngikik.


 

Karena penuh, anak-anak mayoritas pada berdiri. Sialnya, gue berdiri tepat di depan Akbar, alhasil gue digrepe-grepe sama Abay dari belakang. Gue menggelinjang gelisah (Ih jijik). Untuk mengantisipasinya, ketek gue posisikan menjorok ke arah hidung Abay. Abay megap-megap (Tepatnya menggelepar tersiksa dicekokin Gas Air Mata). Sekedar informasi, ketek gue itu baunya seperti kolor kebakar. Terlebih lagi diakumulasikan dengan bau sari ketek penumpang satu Busway, woogh… Abay semaput.


 

Di Busway, gue melihat sekeliling. Eva, Listia dan Anis ngerumpi. Arip, Irfan dan Juhan stay cool (padahal kaki udah gemeteran).
Rina pegangan sama tas Arip (Iye, emang ga ngefek sih). Abay masih sibuk cari mangsa untuk digrepe-grepe. Adhika Cindy dan Devina ga keliatan. Mungkin udah pingsan menghirup gas-keringat-mutan di Busway. Sedangkan, Fuad sang guide mengasingkan diri di belakang.


 

Kita pindah dari satu Busway ke Busway lain. Sekalinya dapet tempat duduk, ternyata tujuannya deket. Dan gue berdiri lagi, pegangan dengan tiang untuk menghadapi guncangan Busway yang bermanuver seperti kora-kora itu. Gue mikir "Widih, kalo gue seharian begini, mungkin tangan gue bakal berotot sendiri.. Atau putus."


 

Gak berapa lama kita sudah dekat dengan Kota Tua… Oke. Emang sedikit lama. Coba lihat tangan gue, udah lebih berisi. Enggak, itu bukan otot. Itu lemak yang membengkak. Gue dan yang lain berjalan kaki ke tujuan, tanpa dikomandoi gue sudah memimpin anak-anak lain untuk menyebrang jalan tanpa kasih tanda berhenti ke mobil yang berlalu lalang. Ya, ini adalah salah satu dari tiga bakat terpendam gue selain ahli kebersihan hidung (istilah kedokterannya "Ngupil") dan merias mayat. Anda tertarik berguru dengan saya?


 

Kita berjalan menyusuri jalan setapak yang dihiasi pedagang asongan yang menawarkan jasa Tatto permanen atau temporer. Tiba-tiba ada mobil SATPOL-PP melaju dari arah berlawanan. Kita semua terkejut, spontan gue teriak "Abaaayyy!!! Laaarrriiii!!!". Lalu Abay dengan segera narik roknya, ngelepas sepatu highheels nya dan dengan slow motion dia ambil langkah seribu dan ngejerit histeris antara panik dan mendesah. Abay pun menghilang di antara bayang-bayang pohon. Oke, bercanda. Saat itu gak ada penjaringan bencong-bencong liar. Tenang, Akbar masih sehat walafiat. Dia mulai mangkal besok.


 

Sampai Kota Tua, gue bengong. Gue melihat bangunan-bangun tua tak terawat yang mencerminkan sejarah yang kurang dihargai. Cukup menyedihkan memang, tapi apa yang kau harapkan? Daripada bermuram durja, kita pun menuju ke Mushola terdekat untuk ibadah. Sampai di Mushola, gue ngambil wudhu untuk bersiap-siap sholat (Iye, ga usah heboh). Setelah perebutan posisi tempat duduk yang adem karena ada kipas angin, kita akhirnya sholat dengan khusyuk.


 

Selesai sholat kita kembali ke Kota Tua, menuju ke Museum Fatahillah. Di sana kita melaksanakan sesi makan siang yang berarti berbahagialah yang membawa bekal dan mati sengsara kelaparan bagi yang gak bawa. Enggak deng, kita ga sekejam itu. Yah paling banter dibiarkan mati dehidrasi sampai jadi seperti ikan asin. Selain makan-makan, kita juga poto-poto di sana. (Note: Tidak ada anggota tubuh manusia yang diikut sertakan dalam sesi ini)


PEMIRSAAH!! Beenarkaah Tina Toon menjalin hubungan khusus dengan Widi Vierra seperti foto diatas? PEEMIIRSAAHH!!


Enggak, Abay ga lagi ngelahirin anak kucing di foto ini.


Iya, gue tau. Tampang mereka memang mesum.


Juhan, si Anak IPA dengan kepala yang tidak proporsional dengan tubuhnya. Enggak, dia ga kena Hidrosefalus.


Irfan: "Talk to my hand." Gue: "Okay, wait. Where is my hand?"


For your info, sebenernya di tangan kanan patung itu ada Hape berkamera.


Meskipun bukan ke Ragunan, tidak menutup kemungkinan anda bisa melihat primata langka seperti ini.


Si Idiot VS Si Jagur : Tampaknya si Jagur memimpin Bung! Cukup berbahaya…


 

Sedangkan yang lain makan bekel yang ga jauh-jauh dari Nasi Goreng atau Mi Goreng, gue sendiri ga napsu makan. Iye, serius. Bahkan melihat pantat Abay aja gue ga doyan (apa juga gitu hubungannya). Akhirnya keripik singkong yang gue niatkan untuk ngerjain monyet di Ragunan gue kasih ke Fued. Fuad pun dengan lahap membabi buta (udah babi, buta lagi) menghabiskan keripik singkong itu tanpa tahu perihal yang sesungguhnya.


 

Setelah puas makan, kita ke lantai atas Museum Fatahillah. Disana kita melihat perabotan kuno yang ditempel kertas bertuliskan "Dilarang Menyentuh". Gue pun bertingkah seperti Patrick Star di pameran museum ubur-ubur. Setiap gue melihat sesuatu, gue akan menjamah benda itu dan menggumam "Pegang.. pegang… pegang…". Iyeh, emank autis. Salah satu yang menarik perhatian gue adalah sebuah kasur kuno yang dibatasi tali. Gue pun berinisiatif untuk memberinya nama "Kasur Berderit Goyang Cikajang" (Nama khas Film Indonesia banget)


 

Sebenernya gue ga terlalu heboh di sini, cuma Juhan aja yang paling aktif. Dia bertingkah seperti guide wisatawan yang profesional sekali. "Lihat, lihat sebelah kanan kita!! Ini adalah tong sampah Alfonso De Alburqueque!! Dan di sebelahnya adalah stop kontak peninggalan Rafflesia Arnoldi!!". Pesan Moral: Terlalu lama berada di museum bisa membuat anda sulit membedakan antara realita dan imajinasi, hipertensi, dan kanker rahim.


 

Sesudah di Museum Fatahillah kita menuju Museum Wayang. Di sana kita melihat patung wayang, dari yang mirip Pak Sugeng (wali kelas X D), hingga wayang dengan aksesoris giginya yang mencakar langit. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil gue dan salah seorang temen gue. Kira-kira gini percakapannya.


 

OM (Orang Museum): "Dek, ga nonton film 3D?"

Gue: "Hah? (ga nangkep)

OM: "Iya, film 3D. Bagus lho, dek!!"

Gue: "Oooohh. Emang iya?"

OM: "Iya!! Gratis lagi!!"

TG (Temen Gue) : (teriak) "Woiii!! Nonton film 3D yook !! Gratis lhoo!!"


 

Anak-anak pun langsung berbondong-bondong menuju tempat yang dimaksud. Anjrit, gue malu abis. Dasar bleguk, giliran gratis aja doyan. Asal jangan kaya film silat Indos**r dengan siluman ular yang menggeliat ga jelas dan dengan latar musik orang paduan suara. "Haa haa haa haa haaaa… haaa haaa haaaa.. haa haaa haaa…"


 

Sampai di Studio Pemutaran Film 3D, ternyata cuma beberapa yang bisa masuk untuk nonton karena tempatnya terbatas. Akhinya yang ga ikut nonton tinggal, Gue, Listia, Akbar, Arief, Irfan, Juhan sama Fued seinget gue. Sembari menunggu anak-anak yang lain selesai, si Juhan mulai menyebarkan isu hoax ke kuping gue "Eh, ber. Lu tau gak? Sebenernya mereka di sana sedang di cuci otak!! Ya, CUCI OTAK!!" dengan nada hebohnya. Baiklah kita lihat nanti, apakah mereka semua akan keluar ruangan seperti zombie dengan tatapan kosong dan menggumam "Aku suka wayaang… aku suka wayang….". Dan ini adalah beberapa poto jepretan gue.


Gue : "Ih, serem ya boneka ini!". Gue nengok ke belakang, tiba-tiba… "Kyaaaa!!!" Oh, itu ternyata Listia.


Men, bulu dada di boneka itu bulu beneran. Yang gue pikirkan adalah berapa banyak bulu ketek yang mereka eksploitasi untuk membuat sebuah boneka tersebut.


Ada yang sadar ga sih kalo sebenernya boneka Unyil itu sama semua? Andaikan Pak Ogah pake kumis pun akan terlihat seperti Pak Raden salah model rambut top collection.


Ga kebayang kalo benda ini melayang-layang di rumah gue. Gue mungkin akan ngelindur "Mbak? Mbak Yasmi? Kaukah itu?"


Salah satu boneka yang tidak mendidik. Tidak ada seseorang yang memilki bulu hidung sebrutal di atas.


Seperti Aming yang telah diawetkan dan dijadikan boneka.


 

Sementara Juhan masih sibuk menjad Guide kurang waras dan masih heboh dengan hanya melihat stop kontak, gue pun mengitari ruangan untuk melihat-lihat. Gue terkesima melihat Gatot Kaca yang digantung dengan otot kawat, tulang baja dan kumis ulat bulunya. Wiihh, kereen. Ga kalah keren dengan Superman, Batman atau Sailor Moon. Kenapa juga Sailor Moon? Karena saya hobi keramas dengan deodoran. (Ga nyambung, bego)


 

Gak berapa lama, anak-anak yang lain naik ke atas dan menghampiri kita. Baiklah ini saatnya kita buktikan apakah teori Juhan tentang cuci otak itu benar atau tidak. Tapi gue perhatikan tidak ada perubahan fisik dari mereka yang seperti gue kira (Mirip zombie, mata ke atas, tangan menjulur ke depan, ingus meler, memproduksi iler secara berlebihan). Atau jangan-jangan telah terjadi perubahan dengan mental mereka? Gue ingin mencoba mengambil salah satu wayang dan menggoyang-goyangnya di depan wajah mereka, mungkin lidah mereka akan melet-melet dan mengibaskan ekor. Lalu saat gue lempar wayang tersebut, mereka akan mengejarnya dan mengembalikannya ke tangan gue. Oke, gue sadar. Mereka bukan Doberman.


 

Beberapa menit kemudian, kita memutuskan untuk foto bersama di sana (Tentu saja setelah gue pastikan kondisi mereka normal. Gue ga mau saat difoto, dan blitz menyala mereka mengamuk dan mulai menggerogoti sepatu masing-masing. Akibatnya bisa fatal.)


Dari kiri ke kanan: Gue, Devina, Adhika, Juhan, Anis, Rina, Arief, Eva dan Akbar… para Remaja Gawwoul..


 

Dari foto di atas, yang paling menonjol tentu saja dua biji Patung Asmat penjaga gerbang di kiri dan kanan. Patung-patung tersebut seakan mencerminkan bahwa yang kiri melambangkan kebijaksanaan dan yang kanan melambangkan kehancuran dunia fana. (Kenape? Protes? Ga suka? Trus salah gue? Salah temen-temen gue? Sakit jiwa lu ya..!!)


 

Setelah puas menggila ria, kita kembali ke lantai bawah dan ke sudut ruangan lain yang cukup luas. Di sana beberapa anak beli souvenir (kayanya sih cuma liat liat, ga niat beli.. Sayang sekali, proses cuci otaknya gagal…), ada jg yang beli minuman dingin. Berhubung gue haus, gue beli minuman ringan Teh sensasi dingin bermerek. Pas gue teguk, gue diem beberapa detik, mencoba mengingat di mana gue pernah merasakan rasa ini. Bayang-bayang samar pun mulai muncul dalam pikiran… botolnya biru, berbentuk silinder kecil, tutupnya putih, di depan botol ada tulisan "JOYKO"… Anjrit, rasanya kaya TIPE-X!! Note: Jika anda suatu hari melihat saya dengan organ tubuh putih luar dalam, jangan panik. Itu bukan karena saya memakai Pond's Age Miracle melebihi batas yang bisa ditolerir. Segera telepon Densus 88.

Ga berapa lama, kita keluar karena museum mau ditutup. Berhubung sudah sore, kita berencana untuk pulang secepatnya sebelum bokap masing-masing sudah menunggu di depan rumah dengan celurit di tangan kiri dan gunting rumput di tangan kanan, lalu menegur anaknya dengan tampang garang "Mau pulang jam berapa kamu hah?! Mau pulang jam berapa!! Jawab!! Lho, lho? Nak, kenapa lari!! Hei kembali!! Bantu Bapak potong ilalang!!". Horror. Meskipun salah paham, tetep aja horror.


 

Fuad dan Irfan pun meninggalkan rombongan menuju stasiun untuk beli tiket kereta Express. Karena Fuad sebagai guide pergi, rombongan yang tersisa pun kehilangan tujuan hidup. Banyak yang menjadi galau, ada yang jerit-jerit, ada yang garuk-garuk tanah, ada yang ngerayu abang-abang penjual minuman Sepirit dan Panta (sepertinya anda bisa menebak siapa), ada yang makan cilok (Adhika yang makan, jauh jauh ke kota tua makannya Cilok juga… -_-).


 

Sedangkan gue menikmati panorama sejauh mata memandang hanya melihat gedung-gedung gak terawat, terus bule, murid SMA yang cabut, terus bule cewe berambut pirang bertampang bening, terus… Eh, bentar. Liat lagi ahh yang tadi… (Beuugh… doyan…)


 

Tiba-tiba…. "Kyaaaaaa!!! Duuaaaakkkk!!". Ada apa itu? Jangan-jangan Abay lagi cipokan sama Abang-abang tukang jam yang tidak beruntung? (Gila, dicipok apa disundul?) Oh ternyata sodara-sodara, ada pengunjung yang cedera karena sepedanya nabrak lampu taman dan jatuh guling-guling, lalu dia pun koprol, salto satu kali, dua kali, daaaan tiga kali!!! Nilai sempurna!!! Oke, becanda. Gue ga lagi nonton turnamen senam.


 

Beberapa detik kemudian…. "Kyaaaaaa!!! GUBRAAAAKKKK!!!". Ouch!!! Ada dua pengunjung yang saling bertabrakan sepedanya, Bung!!! Gue heran. Lalu gue pun menciptakan beberapa analisis mengapa ini terjadi:


 

1. Analisis pertama adalah, pengunjung di sini doyan menabrakkan diri. Ini kurang masuk akal karena gue juga pengunjung Kota Tua dan gue ga doyan tuh. Oke, mungkin nyeruduk salah satu pengunjung pernah, tapi ga parah-parah amat. Orangnya cuma patah dua tulang rusuknya kok, cuma itu. (Gokil, abis ditabrak lari truk gandeng)


 

2. Analisis kedua adalah, mungkin para pengunjung sedang melakukan ritual sebuah legenda terkenal Kota Tua yang ga gue ketahui. Mungkin pada tahun 80-90'an ada cewe dari kalangan pribumi tak sengaja tertabrak sepeda cowo dari golongan kompeni yang salah satu anggota boyband "K-MOETZ" atau biasa disebut Kompeni Imoet Zekali (Ya, gue juga baru tahu kalo tahun 80'an udah ada Boyband). Mereka pun saling jatuh cinta, namun status yang berbeda mengharuskan mereka backstreet. Beberapa episode kemudian si cowo mengalami kecelakaan lalu lintas (Kudanya nginjek beling, jadi hilang kendali. Sayang waktu itu belum ada tukang tambal tapal kuda.) dan si cowo mengalami Amnesia dan muncullah kembaran si cowo. Wooogghh, seru!!


 

3. Analisis terakhir yang menurut gue lebih masuk akal adalah, bahwa sepeda yang disewakan disini REMNYA DIJUAL TERPISAH. Hmmm, sangat masuk akal (Hei, kalau baterai bisa, kenapa rem tidak?). Juhan pun mendengus bau bisnis. Dengusnya semakin keras. Lebih keras. Oh, Juhan tampaknya kebelet berak.


 

Beberapa menit kemudian, setelah puas melihat adegan tabrakan bombom car, kita menyusul Fuad dan Irfan yang lebih dulu ke stasiun untuk beli tiket kereta Express. Sampe di sana, kita sholat dahulu karena kereta berangkat sekitar setengah jam lagi. Satu-satunya yang gue inget dari musholla di stasiun adalah air wudhunya yang rasanya anyep. Kaya abis kumur-kumur dengan oralit oplosan.


 

Ga berapa lama, kita langsung menuju stasiun dan mendapati kereta udah ngetem. Kita langsung masuk, nyari tempat duduk. Berhubung rame, kita jadi mencar di beda-beda gerbong. Yang satu gerbong dengan gue (dan yang keliatan) cuma Fuad, Juhan, Akbar, dan Anis. Gue pun menjadi terbiasa mendengar tawaran para pedagang asongan yang masuk sebelum kereta berangkat. "Lontong lontong lontong… Tahu tahu tahu… Mijon mijon mijon… Cewek cewek cewek…. (?)".


 

Kereta pun berjalan, dan gue menghabiskan waktu dengan berSMS-ria dengan Juhan, Fuad dengerin music di sebelah gue, Akbar yang duduk di sebelah Juhan diem-diem aja (Atau lagi grepe-grepe tulang kering kerontang tubuh Juhan yang kurang berisi.) dan Anis pun tidur layaknya beruang Hibernasi.


 


Anis, sedang tidur ngiler sedangkan bapak-bapak di sebelahnya secara bertahap tergencet seperti tanah liat..


 

Waktu berlalu, gue liat Juhan udah diem (Atau menikmati digrepe-grepe Akbar), Anis masih terlelap dan Fuad pura-pura tidur karena seorang pria yang lagi baca buku dan berdiri di depan kita selalu berdehem yang seakan menyatakan "Ehem ehem… Gue lagi baca buku nih.. Ehem ehem… Kasih gue tempat duduk donk… Ehem Ehem EHEM, Ohook ohook ohooeekk… (Bengek)"


 

Beberapa jam kemudian, kita sampai di Stasiun UI, dan di sini Fuad tidak berfungi sebagai guide semestinya. Kenapa? Karena ini adalah daerah territorial gue dan Akbar. Huahahahhahaha… (Kaki naik ke kursi, ngisep rokok Marlboro terus ngancem "Heeeh!!!! Duit!! DUIT!!!" Wih, preman pengkolan.). Beberapa anak-anak lain naik angkot jurusan PAL dan Gue, Akbar, Anis, Fuad, Juhan, dan lain lain naik jurusan Kampung Rambutan. Berhubung gue ga betah duduk dekat Akbar gara-gara dilecehkan, gue pindah duduk di depan (Enggak, gue gak duduk di kap mobil). Gue dan Akbar turun di perapatan Gundar dan gue pun buru-buru ngacir nyari ojek sebelum nafsu birahi Akbar membara lagi.


 

Yep, this is it!! Trip ke dua Tren-D!! Meskipun tak sebanyak yang pertama, tapi cukup seru kan?


 

FYI: Gue menyelesaikan posting ini dalam jangka waktu 3 Minggu gue lebih. God, maafkanlah atas kelambatan saya menuntaskan Blog ini. BTW, gue besok ke Bali lhooo!! Yuuuhuuu!!! Bali, Aim Kamiinngg!!!

Kamis, 03 Februari 2011

Kata Pengantar. Hmm, Siapa itu 'Pengantar'?

Heyyooo guys!! Kembali lagi… uhuk uhuk… dalam acara… ohoek ohoeekk… Oke oke, bentar. Ambil kemoceng dulu. Terlalu banyak sarang laba-laba dan debu di sini. Sepertinya pembuatnya sudah meninggalkan situs blog pra-sejarah ini. Betapa berkarat dan primitif situs ini. Bahkan foto ini sangat mengerikan. Lihat, betapa menyedihkan wajah orang ini. Seperti seonggok berang-berang yang terperangkap rayuan salesman pembalut wanita. Tunggu, sepertinya itu profile picture FB saya.

Oke fokus. Fokus. Konsentrasi. Tatap mata saya. Masuk dalam pikiran anda. Jauh lebih dalam. Jauh lebih dalam. Sudah ke dalam? Sekarang ambilkan kunci motor saya di dalam…. Uhhhh, oke oke. Fokus ji, fokus. Hokus Fokus!! Lu harus menyelesaikan postingan ini dengan gaya manusia sewajarnya, jangan sampai identitas mu terbongkar!! Sebentar. Memangnya saya bukan manusia? Lalu saya apa?? Whoaa!! Ada seribuan di bawah keyboard!! *heboh*

………..

Ahirnya, bisa serius. Setelah jari bisa dijinakkan sekaligus uang seribuan masuk kantong, gue bisa melanjutkan postingan ini. Ya, gue akui sekarang gue (sangat) jarang mengisi blog ini. Gue juga mengakui kalo sebenernya gue nyaris lupa ID dan Password blog gue. Gue juga ngaku pernah nyolong Nutrisari di supermarket. Dan gue juga mengakui kalo gue simpenan Dian Sastro. Oke, sekarang gue sadar ini bukan blog pengakuan dosa.

Sebenernya gue juga agak males isi blog lagi. Bukan karena ga ada ide, cuma karena males. Justru gue sangat banyak inspirasi buat isi blog, hingga mengendap dalam otak gue. Saking lamanya mengendap, semua ide itu menjadi fosil dan tertimbun terus menerus hingga terjadi reaksi kimiawi yang merubah jasad-jasad renik tersebut menjadi senyawa kimia…. E=mc² dan sinα + sinβ=2sin1+2αβ-cos1 2α+β dengan cosα+cosβ=2cos1-2α+βxcos12αβ lalu, voila!!
Zuuunnggg…. Bzzzzz…. Kraakkk… Brrrbbbbtt brrrrbbbbttt…… Pppssshhhh….

*****

Otak: “Perhatian, otak dalam bahaya!! Perhatian, otak anda dalam bahaya!!”
Gue: “….. Huh? A-ada apa ini? Saya di mana? Kenapa boxer mickey mouse saya bolong?!”
Otak: “Tolong untuk semua memori yang berkepentingan pergi menuju Emergency Room. Segera!!”
Gue: “S-siapa yang bicara itu?!”
Otak: “Terutama untuk memori episode terkini dari sinetron CInta Fitri Season 7. Sang pemilik otak tidak ingin ketinggalan update. Harap cepat!!”
Gue: “Otak? Kau kah itu otak?! Ada apa ini sebenarnya??”
Otak: “Memulai program install ulang. Countdown dimulai. 5… 4… 3…. 2…1”
Gue: “Install ulang? Untuk apa?!Oh ya, sebelumnya terima kasih sudah menyelamatkan memori episode tersebut… Tunggu, hentikan program install ulang!! Semua baik-baik saja!! ‘Cause everything it’s gonna be okay.. yeah yeah....”
Otak: “Pala loe berasep goblok!!!”
Gue: “-Ya Sudahlah... Oh, shit!!”

*****

Err, tadi sampai mana? Oh, anda membaca percakapan diatas? Ah, itu hanya gurauan semata, ahaha haha haha…. (Sembunyiin hydrant di bawah meja). Oke, kita lanjutkan. Anda sudah tau kan kenapa gue jarang mengisi blog ini? Lalu, kenapa sekarang gue isi blog ini? Sejujurnya, ini karena desakan umat-umat ku yang setia yang memohon gue segera mengisi blog ini dengan wahyu-wahyu Tuhan yang sanggup melengkapi Kitab Pemuja Keripik Singkong dan menuntun dunia yang tersesat ini menuju zaman kejayaan bagi seseorang yang suka pisang keju, lalu sesuai ramalan Charles Darwin maka saya pun akan diangkat sebagai Imam di Bumi Pertiwi. Saat itu dialah, pahlawan kita... (semacam sekte yang ga berlisensi SNI gitu kali ya...?)





Oh, tidak. Sepertinya tujuan terselubung saya membuat blog ini sudah terbeberkan. Ah, tidak apa-apa deh. Itu juga sudah menjadi rahasia publik. Baiklah, bagi yang tertarik dengan aliran saya, silahkan ambil formulir pendaftaran di radio kota anda (Lu kata proses audisi ajang pencarian bakat?). Jika anda wanita jomblo, jangan lupa cantumkan nomor hape anda. Jika anda cowo jomblo, plis jangan taro poto ‘super imut’ anda di formulir. Jika anda bukan cowo atau pun cewe (tidak penting anda jomblo atau tidak. Saya tidak berminat), segera hubungi ahli botani dibidang tumbuhan berkelamin ganda.

Back to the topic, kenapa gue mulai mengisi blog ini? Karena beribu-ribu fans gue menanyakan kenapa gue jarang mengisi blog lagi (Oke, lebay. Sebenarnya yang nanya bisa diitung pake jari orang buntung). Mereka kehilangan tujuan hidup jika tidak membaca blog gue. Gue pernah memergoki salah satu pembaca blog gue dan mendapati dia ingin bunuh diri dengan menenggak susu bantal Real Good (rasa Mangga Tetangga Sebelah lho!! Limited Edition!!) melebihi batas yang bisa ditolerir. Gue panik. Kenapa gue panik? Bukankah itu wajar? Itu tidak wajar. Tidak wajar, jika anda minum susu bantal tanpa Sosis SoNice. Seperti prinsip para Grandmaster Catur: “Ingin seperti saya? Makan makanan bermutu, dan berlatih keras!!”. Yeah, siapa yang ga pengen jadi Grandmaster catur? Itung-itung bisa pamer skill di pos siskamling.

Sebenernya gue bingung mau isi postingan ini mulai dari mana, dengan apa, semalam berbuat apa? Yolandaaa….. (Sadar woi, sadar!) Rencananya pengen isi cerita-cerita gue di kelas XI (walaupun tidak ‘semeriah‘ dulu waktu kelas X menurut gue), tapi kayaknya kebanyakan. Well, daripada isi posting blog ini kebanyakan (Baca : sebelum jari gue menggeliat dan menggelepar kesakitan diatas keyboard dengan jempol sampai kelingking melenting-lenting), mending ‘kata pengantar’ ini aja yang gue posting. Lagipula sudah cukup banyak kan ? Posting berikutnya akan gue isi dengan rencana TO ke Bali. See Yaaa!!!

BTW, kok sekarang blogger jadi aneh ya? Jadi belibet... apa kemampuan otak gue yg menurun? (Sepertinya survei membuktikan orang2 memilih jawaban ke 2... cocok....)